Sunday, September 27, 2009

(ArBer) Awas jebakan!


Awas jebakan!


Selagi masih muda, alangkah baiknya kita berteman dengan banyak orang tanpa pilih pilih. Semakin banyak kita berteman, maka tentunya semakin banyak juga pengalaman hidup yang akan kita dapatkan. Bisa jadi proses pertemanan adalah awal metamorfosa kita menjadi seorang yang dewasa serta lebih bijaksana.


Pertemanan tidak selamanya berakhir dengan indah, ada pula yang berakhir mengecewakan. Contohnya saja banyak sekali pecandu narkoba, justru berawal dari proses pertemanan yang salah. Dalam pertemanan tentunya kita selalu mencari teman yang asyik, nyambung kalau diajak bicara, bisa bercanda setiap saat, serta mudah berbagi. Sedangkan teman yang terlalu banyak mengatur atau melarang, tindakan – tindakan kita yang kurang baik pastilah lambat laun kita tinggalkan. Masa remaja memang masa untuk memuaskan keinginan tahuan akan segala hal di dunia ini, akan tetapi banyak sekali remaja yang malahan terjebak “candu” kedagingan dalam dunia ini.


Teman – teman yang mengajak kita menikmati segala sesuatu yang disediakan dunia ini memang tampaknya sangat baik, tapi awas bisa jadi kita sudah masuk jebakan si iblis. Kenikmatan dunia seperti judi, minuman keras, seks dan narkoba memang kerap kali dipakai iblis untuk menjebak jiwa muda kita yang tak berpengalaman. Sekali kita mencobai segala hal tersebut maka hanya anugrah Tuhan sajalah yang bisa membawa kita keluar dari ketergantungan akan dosa-dosa tersebut.


Sebagai anak Tuhan yang beriman, kita harus pintar – pintar memilih teman. Bukan bermaksud untuk membeda-bedakan teman, namun pilihan bergaul dengan siapa yang pantas adalah hak pribadi setiap orang. Berdolah dan minta Tuhan membantu kita agar kita dapat membedakan mana teman yang membawa kita lebih dekat dengan Tuhan dan mana yang dapat membawa kita ketergantungan akan kenikmatan dunia ini.

Teman yang menegur kita dengan keras akibat kesalahan kita, belum tentu membenci kita, bisa jadi dia membenci akibat yang akan kita terima karena kesalahan tersebut.


“Seorang kawan memukul

dengan maksud baik,

tetapi seorang lawan mencium

secara berlimpah - limpah”

Amsal 27:6


GOD Bless u

Friday, September 25, 2009


Pekerjaan yang tak habis – habis.


Liburan panjang menyambut hari raya Idul Fitri sebentar lagi akan habis. Sesegera mungkin kita sudah dihadapkan dengan rutinitas seperti biasa. Bagi para pelajar, mereka sudah harus besiap belajar kembali dan bagi mereka yang bekerja, harus siap kembali. Sebelum kita siap beraktivitas kembali ada baiknya beberapa hari ini kita manfaatkan sebaik-baiknya. Jikalau masih ada waktu dan kesempatan berlibur maka sebaiknya kita berlibur dengan hati tenang dan tanpa khawatir.


Mungkin sebagian dari belum benar – benar “lepas” saat menikmati liburan kemarin. Ada berbagai alasan yang akhirnya membuat kita tidak tenang serta kuatir. Hasilnya liburan yang seharusnya membuat tubuh dan pikiran lebih segar tidak terjadi. Bahkan ada diantara kita malah menjadi stress sepanjang liburan panjang ini. Penyebabnya mungkin saja adalah kekhawatiran kita. Misalnya kekhwatiran akan bagaimana mengumpulkan kembali uang yang sudah kita keluarkan untu liburan ini atau mungkin juga khawatir akan pekerjaan yang kita tinggalkan pada saat berlibur.


Pekerjaan memang akan selalu ada. Secepat apapun kita mempercepat penyelesaiannya , pastinya akan selalu ada pekerjaan baru yang menunggu. Sifat pekerjaan adalah selalu tak ada habis-habisnya, oleh karenanya perlu penyelesaian yang proporsional sebab segala pekerjaan perlu waktu tepat dalam penyelesaiannya. Jika kita diharuskan untuk bekerja secara profesional, maka hal tersebut juga tentunya juga berlaku pada kegiatan kita lainnya. Maksudnya kita juga harus profesional pada saat menyempatkan waktu untuk berlibur dengan keluarga. Mintalah hikmat kepada Tuhan agar kita dapat memanfaatkan waktu sebaik – baiknya. Berdoalah selalu kepada Tuhan agar, kita tidak khawatir melainkan mempercayakan hari esok kita kepada Tuhan.


Memikirkan pekerjaan disaat liburan adalah hal tabu, sama halnya dengan memikirkan liburan disaat bekerja.


Ada waktu untuk mencari,

ada waktu untuk untuk membiarkan rugi;

ada waktu untuk menyimpan,

ada waktu untuk membuang”

Pengkotbah 3:6


GOD Bless u

Friday, September 18, 2009


Wajib mudik.


Hari raya Idul Fitri yang dirayakan kepercayaan agama Islam menyimpan makna khusus bagi warga Indonesia yang memeluknya. Salah satu makna khusus yang unik adalah, budaya mudik bagi para penganutnya. Setiap menjalang hari raya tersebut, banyak sekali mereka yang mencari nafkah di kota-kota besar berlomba-lomba “mengejar” sarana transportasi untuk bertemu sanak keluarga mereka di kampung halaman. Hampir setahun mereka meninggalkan sanak saudara di kampung halaman mereka, maka pada hari raya mereka berjuang untuk berkumpul dan merayakan hari raya bersama-sama.


Tradisi mudik memang tidak lazim kita lakukan pada saat kita orang-orang percaya merayakan hari paskah ataupun natal, akan tetapi kita bisa mempraktekkanya setiap hari. Esensi dari mudik ialah berkumpul bersama dengan sanak keluarga tercinta. Pertanyaannya adalah kapan kita terakhir menghabiskan aktu bersama dengan anggota keluarga kita?


Orang tua sibuk, anak- anak juga tidak kalah sibuknya itulah gambaran keluarga modern yang hidup untuk mengejar waktu. Bangun pagi sudah diseibukkan dengan berbagai kegiatan, orang tua bekerja, anak2 bersekolah ataupun kuliah. Anak-anak sampai di rumah, orang tua belum pulang, sedangkan orang tua tiba di rumah, anak-anak sudah tidur. Jika kejadian tersebut terus berulang-ulang setiap hari, maka berhati-hatilah agar tidak terjadi perpecahan dalam keluarga.


Kebutuhan kasih yang tidak terpenuhi adalah sumber dari berbagai masalah, oleh karenanya penuhilah kasih didlam keluarga kita. Tidak perlu menunggu hari raya untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersamakeluarga, tetapi lakukanlah kapanpunkita bisa, karena kebahagian yang kita pancarkan kepada orang lain selalu berawal dari kebahagan yang kita serap dari anggota keluarga.


Wajibkanlah mudik setiap waktu selama ada waktu!


“Kemudian berkatalah Yusuf

kepada saudara-saudaranya

dan kepada keluarga ayahnya itu

……..

Saudara-saudaraku dan keluarga ayahku

Yang tinggal di tanah kanaan, telah datang kepadaku”

Kejadian 46:31


GOD Bless u

Thursday, September 17, 2009

(ArBer) Bangga saat di puncak.


Bangga saat di puncak.


Rasa bangga adalah perasaan penuh emosional yang wajar terjadi pada saat kita meraih suatu hal yang spesial. Hal yang bisa disebut spesial misalnya kita meraih apa yang kita impikan, kita memenangi suatu kompetisi, atau hanya kita yang mampu melakukan hal-hal tertentu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Rasa bangga bagaikan dua sisi mata uang, satu sisi rasa bangga membuat diri kita bahagia atas segala kerja keras dan usaha kita, akan tetapi bila rasa bangga diperlihatkan di saat dan tempat tertentu, malah akan menjadikan kita dibenci karena dianggap sombong.


Segala pencapaian kita memang patut kita syukuri dan banggakan, namun esensi dari kesemuannya itu adalah syukur karena kasih Allah. Tanpa kasih dan kehendak-Nya, segala usaha kita belum tentu bisa berhasil. Sudah banyak sekali contoh para Rasul yang mempunyai banyak kelebihan, namun mereka justru memilih untuk tidak membanggakan diri, melainkan justru mengembalikan segala kemuliaan kepada-Nya. Walaupun demikian, tetap saja sejarah bahkan injil mencatatkan nama-nama mereka(red:para Rasul)


Perasaan bangga yang sebenarnya seharusnya kita tunjukkan kepada Allah, hanya melalui Dia kita bisa mencapai segala kebahagiaan. Tidak perlu bangga pada diri sendiri saat berada di puncak pencapaian hidup kita! Banggalah jusru kepada anugerah serta penyertaan – Nya yang masih mengijinkan hal besar terjadi dalam diri kita.


Bangga terhadap diri sendiri berarti lupa akan kuasa Tuhan…


“Nyanyian ziarah Daud

TUHAN, aku tidak tinggi hati,

dan tidak memandang dengan sombong

Aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar

Atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku”

Mazmur 131:1


GOD Bless u

Tuesday, September 15, 2009

(ArBer) Kuat sampai tua.


>

Kuat sampai tua.


Sadar ataupun tidak, umur kita akan terus bertambah tua setiap harinya. Saat kita masih muda, kita merasa kuat dan mampu menaklukan dunia. Bisa jadi setiap tantangan adalah kenikmatan yang wajib dinikmati. Setelah umur bertambah apakah kita masih tetap demikian ataukah kita malah menjadi “cengeng”?


Banyak orang – orang tua yang sudah memasuki umur senja mudah sekali menjadi sensitif. Memang hal tersebut merupakan suatu hal yang alami, akan tetapi hal tersebut sebenarnya juga bisa dikontrol. Sewaktu muda mungkin mereka terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-hari, akibatnya setelah pensiun, mereka menjadi bingung bagaimana memanfaatkan banyak waktu luang. Terkadang keluarga masih mau menerima mereka karena mungkin pengalaman mereka masih bisa berguna untuk pertumbuhan cucu-cucu mereka, akan tetapi tidak jarang mereka malah di”titipkan” dipanti-panti jompo/manula.


Memang tidak gampang hidup di jaman yang terus berubah ini. Jaman kita saat ini mungkin masih sanggup kita taklukan, namun jaman anak-anak, atau bahkan cucu-cucu kita, keadaannya tidak akan sama lagi. Teruslah menjadi kuat di dalam Tuhan, walaupun terkadang nasihat, pemikiran atau ide kita tidak diterima anggota keluarga kita yang masih muda. Kita harus siap jika ide kita tidak diterima, bahkan kita harus menjadi orang yang paling kuat di saat mereka tertimpa masalah atau kesulitan.


Jika umur kita yang paling tua, itu berarti kitalah yang paling banyak mengahadapi masalah hidup, oleh karenanya tetaplah kuat didalam Tuhan! Hal itulah yang akan menjadi contoh nyata yang segar bagi kaum muda agar menjadi kuat juga di dalam kuasa serta penyertaan Tuhan.


“Pada masa tua-pun

mereka masih berbuah,

menjadi gemuk dan segar”

Mazmur 92:15


GOD Bless u

Monday, September 14, 2009

(ArBer) Hanya mengambang.


inator" content="Microsoft Word 10">

Hanya mengambang.


Anjing pada gambar di atas mungkin tidak akan terbang tinggi, walaupun diikatkan beberapa balon lagi. Penyebabnya tentu saja buka karena anjing tersebut terlalu berat, akan tetapi penyebab utamanya adalah tali yang diikatkan ke lehernya dipegang oleh wanita tersebut. Balon tersebut memang bisa mengangkat sang anjing terbang tinggi ke udara, namun tali yang mengikat anjing tersebut terlalu kuat untuk ditarik ke udara.


Ada kalanya kita mengalami hal serupa. Saat kita sedang “terbang” menuju perubahan yang baru, hal tersebut tidak menjadi maksimal karena kita masih “diikat” tali kesalahan atau dosa. Seharusnya kita bisa terbang bagai rajawali mengatasi masalah – masalah dalam kehidupan, namun terkadang kita masih enggan lepas dari kesalahan favorit kita yang sering menimbulkan dosa. Setiap minggu saat mengikuti ibadah, kita selalu ikut dalam doa pengampunan dosa, akan tetapi semuanya akan menjadi sia-sia, apabila kita masih diikat kesalahan dan dosa yang sama lagi di kemudian hari.


Iman kita memang harus terus diuji agar bisa bertumbuh. Jangan mudah menyerah dengan ujian-ujian yang terlihat terlalu enak untuk dihindari! Penebusan dosa dari Kristus adalah jaminan pengampunan atas dosa kita, akan tetapi hal tersebut akan menjadi sia-sia apabila kita sendiri tidak mau mengambil keputusan untuk melepaskan ikatan dosa tersebut. Apapun dosa kita hari ini, sudah sebaiknya kita datang kepada-Nya dan meminta pengampunan-Nya! Setelah bertobat kita jangan mau lagi diikat tali dosa karena “balon-balon” anugerah-Nya siap membawa kta terbang dan bukan hanya mengambang.


“Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan,

hendak menyamai Yang Mahatinggi”

Yesaya 14:14


GOD Bless u

Sunday, September 13, 2009

(ArBer) Menghitung hari atau hari untuk menghitung?


Menghitung hari atau hari untuk menghitung?


Untuk mencapai hari yang ditunggu-tunggu biasanya kita selalu mencoret dengan tanda silang pada kalender untuk hari yang telah kita lalui. Sebenarnya tidak ada efek khusus yang membuat waktu menjadi cepat, akan tetapi dengan menyilang hari-hari dalam kalender tersebut, kita setidaknya tahu sudah berapa hari yang telah kita lalui.


Waktu akan terus berjalan, tidak akan pernah berhenti, terlambat, atau lebih cepat sedetikpun. Waktu berjalan sesuai dengan aturan sang Penciptanya. Waktu yang disediakan bagi kita di dunia ini juga sudah diatur Tuhan. Akan menjadi suatu hal yang bijak kalau kita menyikapi kehendak-Nya dengan penuh sukacita dan keberserahan. Setiap hari seharusnya tidak kita sia-siakan atau kita lewati begitu saja, apalagi sampai kita hanya berdiam diri. Jangan juga menyediakan hari khusus untuk menghitung hari-hari yang telah kita lewati. Setiap hari akan ada selalu berbeda, dan tidak mungkin ada hari yang diulang. Sebaiknya setiap hari kita gunakan sebaik-baiknya, jangan sampai kita melewati hari dengan penyesalan. Setiap hari yang kita lewati dengan sebaik-baiknya akan terasa lebih indah jika kita menghitungnya.


Berdoalah kepada TUHAN agar kita bisa melewati hari dengan sebaik-baiknya! kemudian mulailah menghitung segala perubahan kita hari demi hari, maka kita akan berubah menjadi lebih baik setiap harinya.


“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikan

hingga kami beroleh hati yang bijaksana”

Mazmur 90:12


GOD Bless u