Friday, May 21, 2010

(ArBer)Membelenggu diri sendiri


Membelenggu diri sendiri


Gambar diatas merupakan suatu gambar 3 dimensi. Dalam bambar tersebut sebenarnya sang pelukis melukis sebuah bola rantai besi, namun dengan sedikit sentuhan dan tekhnik gambar tertentu, maka yang terjadi adalah seolah – olah bola besi tersebut terikat oleh rantai yang menghubungakn ke tangan sang pelukis tersebut. Jadilah bola besi tersebut seolah-olah membelenggu dan membatasi gerakan tangan sang pelukis.


Banyak sekali kejadian atau trauma masa lalu yang menghalangi “gerakan” kita dalam kehidupan sehari-hari. Mau melakukan ini takut, mau ke arah sana tidak berani, bahkan sampai mau berbicara dengan orang lain pun, terkadang gugup akibat keslahan yang sudah pernah kita buat. Hal-hal tersebut bukan hanya membelenggu pikiran kita akan tetapi sebenarnya sduah membelenggu tubuh dan jiwa kita secara keseluruhan. Jika kita tidak melepaskan secepatnya belnggu-belenggu tersebut, maka melangkah satu langkah ke dsepan saja akan membuat kita ragu.


Bersyukurlah, karena kita mempunyai Tuhan yang pengasih dan penyabar. Dia bahkan telah mati untu melepaskan belenggu paling besar didunia ini, yaitu belenggu dosa yang maut hukamannya. Sudah semestinya kita juga melepaskan belenggu-belenggu kecil yang tidak berarti tersebut. Trauma, kesalahan dan dosa masa lalu adalah penghambat utama kita untuk melangkah ke depan. Datanglah kepada Tuhan, dan akuilah segala kesalahan kita serta mintalah kasih anugrahnya untuk melepaskan kita dari segala belenggu tersebut. Tuhan tidak menghitung atau memilih siapa yang akan dihapus dosanya, akan tetapi kematiaan-Nya di tujukkan kepada semua umat manusia yang terbelnggu dosa, termasuk kita.


Lepaskanlah dirimu dan jangan membelenggu diri sendiri lagi! karena sebenarnya Tuhan sudah lama melepaskan kita dari belenggu kehidupan yang paling berat yaitu dosa.


“Lepaskanlah dirimu seperti kijang

Dari pada tangpakan

Seperti burung

Dari pada tangan pemikat”

Amsal 6:5


GOD Bless u

Wednesday, May 19, 2010

(ArBer)Bukan sekedar bekerja.


Bukan sekedar bekerja.


Banyak sekali diantara kita yang terbiasa bekerja dengan motto “mengerjakan sebaik-baiknya apa yang diperintahkan atasan”. Apapun yang menjadi tugas kita memang sudah selakyaknya dikerjakan dengan sebaik mngkin, namun sebenarnya itu belum selesai, kita juga harus mengetahui dengan jelas apa yang kita kerjakan, serta manfaatnya, agar selain bekerja dengan baik, kita juga bisa mempertanggung jawabkan segala perkerjaan kita.


Paradigma dalam bekerja memang sudah terbentuk dari jaman penjajahan, yaitu bekerja dengan sebaik-baiknya apa yang diperintahkan atasan, atau kita tidak mendapatkan upah yang layak. Terkadang bahkan tanpa memperdulikan kerjaan atau perintah apa yang diberikan kepada kita. Apabila atasan memberikan perintah melakukan hal buruk yang merugikan orang lain, maka hal itu juga kita lakukan demi mendapatkan upah. Jaman modern seperti ini sejatinya kita dituntut bukan hanya bisa bekerja sesuai dengan job desk , tapi juga berani mempertanggung jawabkan apa yang kita kerjakan. Tidak hanya mengerjakan dengan rapi segala administrasi yang datanya langsung dari atasan, akan tetapi kita juga harus tahu apakah data tersebut asli atau sebenarnya rekayasa. Jika data tersebut rekayasa, maka suatu saat jika terjadi maslah maka nama kita juga akan ikut terseret, karena berperan dalam menyusun data-data tersebut.


Mengerjakan dengan baik memang bagus, namun akan menjadi sempurna jika kita mengetahui apa yang kita kerjakan, agar siap bertanggung jawab atas segala pekerjaan tangan kita. Kita memang membutuhkan upah, akan tetapi kita juga harus tahu bahwa prinsip serta integritas kita tidak bisa dihargai dengan uang apapun. Tuhan melengkapi kita dengan akal dan pengetahuan sertajuga hikmat dan kebijaksanaan, oleh karena itu kita harus hidup dengan penuh hikmat dalam melakukan apapun. Bukan sekedar bekerja, kita juga harus mmemegang prinsip hidup yang berdasarkan iman kita kepada-Nya dalam melakukan pekerjaan. Kita diharuskan bekerja sesuai dengan kemauan pimpinan untuk mendapatkan materi yang banyak, akan tetapi belum tentu segala pekerjaan kita berkenan dihadapan-Nya. (pemalsuan data pajak, mark up harga dan lain sebagainya) Kelak setelah kita puas menikmati dunia ini, maka kita harus mempertanggung jawabkan segala pekerjaan kita yang tidak sesuai dengan kehendaknya-Nya di dalam api nereka yang abadi.


Jika anak tersebut bekerja penuh dengan hikmat maka dia tidak akan ceroboh saat memotong batang pohon tersebut!

“……

Sedang akal budiku tetep memimpin dengan hikmat

Dan dengan memperoleh kekebalan sampai aku

Mengetahui apa yang baik bagi anak-anak

Manusia untuk dilakukan

……..”

Pengkotbah 2:3


GOD Bless u

(ArBer)Siap untuk bekerja keras.


Siap untuk bekerja keras.


Dalam sebuah sesi wawancara pertanyaan terakhirnya adalah “apakah anda siap kerja keras dan siap lembur?”, Mendengar pertanyaan seperti itu, seorang pelamar pekerjaan mengatakan “saya siap kerja keras dan lembur asal bayaran saya cukup”.


Berapa banyak dari kita yang terkadang melakukan hal yang sama yaitu siap bekerja keras apabila mendapat imbalan yang sepadan. Siap lembur apabila uang lembur sepadan. Bahkan dalam hal pekerjaanpun demikian, hal – hal sederhana yang bisa kita lakukan(seperti buang sampah, merapikan meja yang berantakan, ataupun merapikan koran/surat kabar yang telah dibaca) terkadang malas kita lakukan, karena itu semua adalah pekerjaan office boy. Selalu saja ada alasan untuk menolak pekerjaan – pekerjaan sederhana yang sebenarnya berguan bagi kepentingan bersama.


Untuk meraih gelar dan ketrampilan tertentu kita memang membutuhkan banyak pengorbanan, termasuk pengorbanan waktu, materi maupun pikiran. Oleh karena itu kita seharusnya mendapatkan upah yang layak pada asat kita bekerja. Akan tetapi bukan berarti semua kerja tangan kita harus dihitung dengan materi yang masuk, bahkan buat hal-hal kecil yang bisa kita kerjakan. Sebagai seorang yang beriman, kita harus mengerjakan segala sesuatu seperti mengerjakannya untuk TUHAN. Jika kita bekerja maka fokus kita haruslah demi kemajuan perusahaan dan seluruh staffnya. Jika perusahaan mengalami masalah, maka kita harus rela membantu, tanpa harus memperhitungkan bayarannya. Percayalah TUHAN maha adil, dan tidak pernah berhutang pada mereka yang rajin bekerja keras dengan tidak bersungut-sungut. Mungkin perusahaan kita belum atau tidak sanggup menghargai dengan materi segala kerja keras kita, namun yakinlah TUHAN melihat segala kerja tangan kita, dan akan memberkati kita tepat di saat kita membutuhkannya.


Kita dapat menolak bekerja keras dengan beribu alasan, namun untuk mau rajin dalam bekerja keras kita hanya membutuhkan 1 alasan yaitu bekerja sebaik mungkin seperti bekerja kepada TUHAN.


“Tangan yang lamban membuat miskin,

Tetapi tangan orang rajin

Menjadikan kaya”

Amsal 10:4


GOD Bless u

Tuesday, May 18, 2010

(ArBer)Salah siapa?


Salah siapa?


Siapa yang harus disalahkan, apabila dari telur ayam muncul sekor anak gajah? Kesalahan ayam jantankah atau kesalaha induk ayam betina?(pada gambar diatas). Yang jelas keduanya tidak ada yang salah, karena hal tersebut tidakm mungkin terjadi.


Gambar diatas hanyalah gambar ilustrasi biasa, dan sesuatu hal yang bisa dikatakan mustahil terjadi. Dalam kehidupan rumah tangga sering juga terjadi hal yang identik dengan gambar tersebut, misalnya pada saat seorang anak mempunyai sifat dan karekter yang berbeda dengan kedua orang tua mereka, maka yang terjadi adalah keributan antar kedua orang tua mereka. Biasanya dalam mendidik anak kedua orang tua akan salang melempar tanggung jawab, namun setelah pertumbuhan sang anak tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka mereka akan saling menyalahkan.


Dalam mendidik anak alagkah baiknya kedua orang tua berperan serta aktif. Jangan saling melempar tanggung jawab hanya karena kesibukan masing-masing. Waktu untuk anak-anak tidak bisa digantikan dengan apapun. Mungkin kita menyepelekan mereka dengan alasan bekerja untuk memenuhi kebutuhan masa depan mereka, akan tetapi pernahkah kita berpikir sebanyakm apapun persedian keuangan kita untuk mereka, jika mereka tidak bia memanfaatkanya sama saja hal tersebut adalah sia-sia. Anak-anak sangat membutruhkan perhatian orang tua, dibandingkan membutuhkan warisan materi dari orang tua. Jika anak-anak tumbuh penuh dengan hikmat dan kebijaksanaan maka kita tidak perlu repot-erepot menyediakan harta materi untuk kehidupan mereka. Apa yang mereka dapatkan dari kita akan menjadi bekal hidup yang lebih baik dari pada modal harta meteri.


Orang tua Kristiani harus bekerja sama dalam mendidik anak, dan bukan sebaliknya yaitu saling menyalahkan jika terjadi hal-hal buruk terhadap anak mereka yang sebenarnya terjadi akibat kesalahan mereka(orang tua) masing-masing.


“Disiklah anakmu,

Maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu

Dan mendatangkan

Sukacita kepadamu”

Amsal 29:17


GOD Bless u

Monday, May 17, 2010

(ArBer)Sempatkan waktu untuk berdoa!


Sempatkan waktu untuk berdoa!


Rata – rata kita berbicara sebanyak 60 menit dengan orang lain melalui telepon seluler. Bercakap dengan sesma kita sebanyak 540 menit, itu pun bisa lebih, tergantung jenis pekerjaan kita(sales,marketing atau guru, bisa melebihi 540 menit/hari). Lalu pertanyaannya adalah berapa lamakah kita menyediakan waktu untuk berbicara kepada Tuhan Sang pencipta alam semesta?


Manusia selalu terlihat sibuk dengan segala aktivitasnya sepanjang hari. Apabila ada waktu kosongpun, pastilah dimanfaatkan untuk berisitirahat. Apabila ada waktu sisa lagi, biasanya dimanfaatkan untuk berekreasi atau pun berkumpul bersama sanak saudara. Kira-kira seperti itulah rutinitas orang-orang duniawi. Hal serupa juga terkadang terjadi kepada kita sebagai orang-orang beriman. Hampir setiap hari ada kegiatan bersama-sama hamba Tuhan di Gereja, sedangkan hari minggu seluruh tenaga dan perhatian terfokuskan pada pelayanan dalam kebaktian. Tidak jarang kesibukan pelayanan kita membuat waktu kita terpakai habis, sehingga waktu untuk saat teduh dan berdoa “terpotong” oleh kegiatan pelayanan.


Memang tidak mudah untuk menyempatkan diri pergi ke tempat sunyi untuk berdoa dan bercira kepada Tuhan. Namun sebenarnya berbicara dengan Tuhan tidak memerlukan cara-cara khusus dalam situasi atau kondisi yang khusus pula. Dimana-dimana kita bisa berbicara dalam hati dengan-Nya. Kita bisa bernyanyi dan memuji dia dalam hati, lalu kita melanjutkan dengan mencurahkan isi hati dan rencana kita sepanjang hari ini. Jika kita memang perlu menutup mata, tutuplah mata kita agarkita bisa berfokus pada saat kita berdoa, akan tetapi jika memang kita harus membuka mata kita ,tetap saja kita tidak dilarang untuk berbicara dengan-Nya. Berbicara kepada Tuhan tidak memerlukan tarif khusus(seperti pulsa handphone), ataupun jam-jam khusus(seperti menelpon klien pada jam kerja). Kapanpun, dan bagaimanapun caranya jika kita ingin berbicara dengan-Nya, Dia selalu siap mendengarkannya. Bahkan Yesus Kristus pun menyempatkan diri untuk berdoa, di saat kesibukannya melayani dan memberitakan firman kepada banyak orang.


Jika kita menyediakan waktu kita untuk berbicara kepada-Nya, maka Dia juga pastinya akan memberikan waktu lebih bagi kita untuk menyelesaikan segala pekerjaan dan pelayanan kita. Dialah yang menguasai waktu diduniai ini, oleh karena itu Dia bisa dengan mudah membuat kita berhasil atau gagal sesuai dengan waktu-Nya


“Dan setelah orang banyak itu

Disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit

Untuk berdoa seorang diri

…..”

Matius 14:23


GOD Bless u

Saturday, May 15, 2010

(ArBer)Demi kepentingan bersama.


Demi kepentingan bersama.


Apabila toko tersebut menyediakan kursi yang cukup, mungkin kedua anak(gambar diatas)tidak perlu bergantian untuk memberikan punggungnya diduduki. Kedua anak yang sudah ketagihan akan sebuiah permainan games rela salaing membantu agar dapat menikmati permainan tersebut. Mereka dengan sukarela bergantian menjadi “kursi”demi kepentngan bersama untuk menikmati permainan tersebut. Kedua bocah tersebut bekerja sama demi kepentingan yang sama, yaitu kenyamanan dalam bermain games.


Walaupun sesdikit ironis(karena mereka ketagihan akan sebuah permainan, bahkan rela punggungnya diduduki), akan tetapi ada hal positif yang bisa kita tarik dari gambar diatas. Mereka memang masih kecil, akan tetapi mereka cukup cerdik dalam menyiasati suatu kondisi. Di saat tidak ada kursi, mereka tidak lantas duduk dibawah, akan tetapi mereka bekerja sama untuk saling memanfaatkan punggung mereka untuk menjadi “kursi”. Dengan demikian mereka akan merasa lebih nyaman dalam menikmati permainan games tersebut. Siapa yang pertama menjadi “kursi” sepertinya bukan masalah bagi keduanya, asalkan mereka dapat bergantian menikmati permainan tersebut, mereka akan secara suka rela bekerja sama.


Dewasa ini gereja-gereja sepertinya telah meninggalkan kerja sama mereka anatara satu dengan yang lainnya. Banyak sekali yang menjadi alasan mereka “bergerak” sendiri-sendiri. Mulai dari aliran yang berbeda, sudut pandang serta target yang berbeda, akhirnya semuanya itu bukan saja membuat gereja-gereja sulit bekerja sama namun terkadang membuat mereka malah saling bertentangan. Jika visi gereja adalah satu yaitu sebagai penyalur kasih Allah dan sebagai Penyalur berita keselamatan melalui firman-Nya, maka seharusnya gereja-gereja bisa saling membantu dan bekerja sama. Perbedaan pasti akan selalu ada dalam peribadatan, sudut pandang, ataupun budaya lokal pada setiap gereja, namun jika sudut visinya disatukan yaitu visi yang berdasarkan firman dan kehendak-Nya, maka seharusnya gereja- gereja dapat bekerja sama, oleh karena visi adalah prioritas utama diatas misi-misi kecil suatu gereja.


Agar kerja sama kita menghasilkan bukti nyata, maka dibutuhkan sebuh tim yang solid, untuk menjadi anggota tim yang solid kita harus mempunyai kepentingan yang sama, dan untuk menyatukan kepentingan dibutuhkan pritoritas utama yang harus segera dilakukan. Jika prioritas kita adalah kasih Tuhan, maka kita akan mudah bekerja sama dengan hamba-hamba Tuhan lainnya.


“…..

Tunjukkanlah kasihmu

Dalam hal salig membantu”

Efesus 4:2


GOD Bless u

Friday, May 14, 2010

(ArBer)Menjaga kesehatan


Menjaga kesehatan


Dalam seminggu kita bisa menghabiskan waktu 60 jam hanya untuk beraktivitas, dan hanya sekitar 42 jam untuk beristirahat. Sisanya mungkin kita gunakan untuk kegiatan lain seperti bersosialisasi, makan, membersihkan tubuh ataupun menghabiskan waktu di jalan. Jika ini berlangsung terus menerus, maka tubuh ini akan terkuras energinya., yang mengakibatkan melemahnya organ-organ tubuh. Dibutuhkan waktu untuk melatih tubuh ini bergerak dengan rileks ataupun santai. Maksudnya adalah otot serta organ tubuh ini tetap bergerak ringan namun tidak dipengaruhi kerja otak yang berlebihan. Contoh sederhananya adalah olah raga, dimana seluruh organ tubuh bergerak dengan rileks, tanpa adanya beban pikiran dari otak.


Mungkin kebanyakan orang merasa dengan pola makanan yang teratur serta istirahat yang cukup saja sudah memenuhi syarat badan sehat. Sebenarnya selain itu kita juga memerlukan olah raga untuk melatih raga ini. Tubuh yang teratur mengeluarkan keringat akan membuat metabolisme tubuh meningkat. Kotoran-kotoran sisa pembuangan ataupun proses pencernaan akan keluar melalui keringat pada saat kita berolah raga. Satu hal yang harus selalu kita ingat adalah “dibalik tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat”


Sudah berapa lama kita tidak berolah raga? Mungkin hari libur seperti ini kita lebih memilih memulihkan diri dengan beristirahat, asmbil tidur-tiduran untuk memulihkan stamina kita. Hal tersebut memang tidak salah, namun pola hidup sepertyi nantinya tidak akan membuat tubuh kita benar-benar segar, bisa jadi istirahat yang berlebihan akan membuat tuibuh ini, tyidak siap untuk emnghadapi aktivitas di awal minggu nanti. Sama seperti kehidupan rohani kita yang perlu kita latih kepekaannya terus menerus setiap hari, maka tubuh jasmani ini juga harus terlatih untuk memngahadapi segala aktivitas yang mendukung pekerjaan, kehidupan sosial serta pelayanan kita!


Tubuh yang sehat adalah salah satu syarat penting bagi kita untuk bisa beraktivtas serta melayani-Nya!


“Tetapi aku melatih tubuhku

Da menguasainya seluruhnya

……”

1 Korintus 9:27


GOD Bless u