Monday, August 27, 2012

(ArBer) Sutradara kehidupan.



Sutradara kehidupan.


Foto di atas adalah foto yang diambil dari atas sebuah gedung. Foto tersebut diambil dengan sudut pandang sempurna, yang menggambarkan seolah – olah pria tersebut sedang mengatur kendaraan di bawahnya yang terlihat kecil. Bukan Pria tersebut yang berbadan seperti raksasa, namun kendaraan di bawahnyalah yang terlihat kecil, sebab foto tersebut diambil dari ketinggian.


Seorang sutradara terbiasa meihat atraupun mengatur dari sudut tertentu dalam jarak tertentu pula. Sutradara memerlukan jarak tertentu untuk dapat melihat keseluruhan dari apa yang sedang ingin ditampilkannya atau dikerjakannya. Dalam hidup ini kita juga memiliki “sutradara” yang bisa melihat dalam sudut pandang tertentu dimana kita tidak dapat melihatnya. Tahukah anda kira-kira siapa Sang Sutradara tersebut?


Tuhan Allah sudah membuktikan kepada bangsa Israel, bahwasannya Ia turut bekerja dalam mengantarkan bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Dari atas langit Tuhan mengawasi dan mengatur semua keperluan bangsa Israel. Ironisnya bangsa Israel mungkin sama dengan kebanyakan kita saat ini yang kerap kali memandang terhadap sudut tertentu saja. Kita terbiasa hanya memandang pada permasalahan hidup, sehingga kita tidak bersyukur di saat Tuhan Allah mengatur segala keperluan sehari – hari kita. Sebagai manusia kita memang mempunyai sudut pandang terbatas, namun tidak demikian halnya dengan Tuhan Allah yang bertahta di dari atas langit.yang saat ini sedang menjadi Sutradara kehidupan! Oleh karena iu Percayakanlah kehidupan kita seluruhnya kepada Sang sutradara yang memberikan kita “peran” dalam dunia ini!


Tuhan tidak pernah diam, dari atas langit Dia turut bekerja demi kebaikan hidup umat manusia! Jadi ikuti saja alur cerita yang telah disiapkan sang Sutradara kehidupan!


“Maka Ia memerintahkan awan–awan dari atas,

Membuka pintu-pintu langit,

Menurunkan kepada mereka hujan

Manna untuk dimakan

Dan memberikan kepada mereka

Gandum dari langit”

Mazmur 78:23-24


GOD Bless u

Sunday, August 26, 2012

(ArBer) Harus mengampuni berapa kali?



Harus mengampuni berapa kali?


Masih dalam suasana saling memaafkan terkait hari raya Idul fitri yang diperingati saudara – saudara kita, maka tidak ada salahnya kita juga mengambil hikmah dari perayaan Idul Fitri tersebut. Kita boleh memperhunakan momentum ini juga untuk meminta maaf kepada sesama kita, dan lebih penting lagi juga mengampuni mereka yang bersalah dengan tulus.


Perayaan Idul Fitri memang hanya dirayakan sekali dalam satu tahun, akan tetapi itu sama sekali tidak berarti kita hanya boleh atau bisa mengampuni mereka yang bersalah sekali saja dalam 1 tahun. Seberapa besar dan banyak kesalahan yang dilakukan sesama kita, tetapsaja mereka berhak menerima pengampunan sebanyak dan sebesar kesalahan mereka. Apakah itu hal yang mudah? Tentu saja tidak, sebab siapakah didunia ini yang tidak suka dengan balas dendam?


Apabila rasul Petrus mampu mengampuni mereka yang berbuat dosa sampai tujuh kali, belum tentu kita juga bisa melakukan hal demikian. Bahkan untuk mengampuni orang yang sama sebanyak tiga kali saja, rasanya cukup sulit. TuhanYesus mengetahui hati kita semua yang rentan akan nafsu balas dendam, oleh karenanya Dia menganjurkan kita harus mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali. Tentu bukan angka yang menjadi penekanan Yesus, melainkan kerelaan hati untuk mengampuni tanpa batas dan syarat tertntu. Hal tersebut memang sulit, tetapi yakinlah Dia yang memerintahkan kita, pasti sudah mencontohkannya terlebih dahulu! Dan jika Ia mampu pastinya Dia juga akan memampunkan kita yang mau berusaha!


Jangan menghitung berpa kali kita mengampuni seseorang, akan tetapi ampunilah setiap orang yang berbuat salah! maka sadar ataupun tidak pasti pengampunan kita akan mencapai tujuh puluh kali tujuh kali, atau bahkan lebih.


“…………………………..….

Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku

Jika ia berbuat dosa terhadap aku? sampai tujuh kali?

Yesus berkata kepadanya: bukan!

Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali

Melainkan tujuh puluh kali tujuh kali”

Matius 18:21-22


GOD Bless u

Wednesday, August 15, 2012

(ArBer)Hamba yang merdeka.


Hamba yang merdeka.

Apakah benar negeri kita telah merdeka? Tentu saja jawabanya adalah benar bahwa negeri kita telah merdeka dan bebas dari penjajahan, akan tetapi dalam urusan mental, mungkin kita masih mempunyai mental seperti orang – orang jajahan.

Penakut, nyaman dengan keadaan kurang baik, tidak berani mengungkapkan pendapat dan lain sebagainya adalah ciri dari mental seorang yang masih dijajah. Orang – orang seperti itu mudah sekali kita temui di era kemerdekaan ini, atau bahkan kita sendiri juga adalah bagian dari mereka yang bermental orang jajahan. Kita telah merdeka, jadi sudah selayaknya kita memperbaharui mental kita yang semula adalah hamba para penjajah kini sudah harus menjadi tuan bagi negerinya sendiri! Sudahkah hal tersebut kita wujudkan dalam kehidupan ini?

Sebagai orang – orang beriman kita juga telah dimerdekakan dari belenggu dosa! Jadi sudah semestinya kita tidak lagi menjadi hamba dosa! Walaupun kita sudah tidak dimerdekakan dari segala dosa kita, bukan berarti kita tidak menjadi hamba lagi! Kita tetap akan menjadi hamba namun kita bukanlah lagi hamba dosa melainkan hamba dari kebenaran. Menjadi hamba kebenaran adalah suatu kehidupan baru yang ditawarkan Tuhan setelah Dia memerdekakan kita. Akan tetapi apakah kita semua sudah siap menjadi hamba kebenaran? Jangan berpikir panjang lagi untuk mengisi kemerdekaan iman yang kita raih, sebab Dia sudah memerdekakan kita dengan cara yang luar biasa(mengorbankan Anak- Nya). Jadi segeralah bertekun menjadi hamba kebenaran!

Menjadi hamba kebenaran tidak sama dengan orang – orang jajahan, sebab jika orang – orang jajahan mempunyai tuan seorang penjajah/penindas, sedangkan Tuan dari hamba kebenaran adalah Dia yang memerdekakan kita dari belenggu dosa!

“Kamu telah dimerdekakan

dari dosa

Dan menjadi hamba kebenaran”

Roma 6:18

GOD Bless u

Tuesday, August 14, 2012

(ArBer)Istirahat atau malas?


Istirahat atau malas?


Menjelang libur panjang hari raya, kita semua tentunya sudah menyusun jadwal liburan kita. Tidur ataupun beristirahat adalah salah satu jadwal yang sudah pasti kita rencankan dalam benak kita.


Jiwa dan raga wajib diistirahatkan dari segala beban pikiran maupun kegiatan sehari – hari. Istirahat dari rutinitas(pada saat libur hari raya/nasional) bukan berarti harus bermalas-malasan ataupun tidur sepanjang hari. Tidur memang bisa memulihkan kondisi fisik serta mental kita, namun tidur yang berkepanjangan jutru akan menyebabkan fungsi kerja organ tubuh yang semakin lambat. Akhirnya saat kita membuka mata, maka kita tidak serta merta langsung merasakan kesegaran, yang kita rasakan hanyalah kelelaahan. Kelalahan tersebut kemudian mendatangkan rasa kantuk kembali, dan jika sudah demikian kita akan menjadi malas melakukan apapun dan hanya ingin kembali memejamkan mata.


Banyak hal yang bisa dikerjakan selain untuk tidur ataupun bermalas-malasan! Diantaranya yaitu dengan mengunjungi kerabat dekat, menghubungi mereka untuk menanyakan kabar, atau bisa pula menghabiskan waktu untuk mengikuti segala kegiatan Gereja yang biasa sulit kita ikuti oleh karena kesibukan kita sendiri. Carilah hal – hal positif yang mampu memberikan ketenangan dalam pikiran maupun memulihkan kesegaran fisik kita pada saat hari libur datang! Dan yang paling penting adalah tetap mengandalkan Tuhan dalam segala kegiatan santai kita, sehingga bukan jiwa dan raga kita sendiri saja yang dipulihkan, sukacita dan kasih Allahpun akan bisa terus mengalir terhadap sesama kita!


Istrirahat atau tidur memang tidak dilalarang, namun jika tidur dimana dan kapan saja tanpa memperdulikan keadaan sekitar itu sama saja dengan memupuk kemalasan!


“Kemalasan

Mendatangkan tidur nyenyak

…………………..”

Amsal 19:15


GOD Bless u

Monday, August 13, 2012

(ArBer) Jangan menolak lagi!



Jangan menolak lagi!


Penolakan adalah kata yang tidak akan disukai oleh siapa saja. Seseorang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk bisa menerima sebuah penolakan, itupun tergantung subyek yang menolakanya. Apabila subyek yang melakukan penolakan adalah orang yang dikenal apalagi mereka yang mempunyai hubungan darah, maka penolakan akan lebih terasa pahit.


Penolakan pahit juga pernah dirasakan Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus justru ditolak di tanah kelahiran-Nya di Nazaret. Kehadiran Yesus yang membawa pengajaran akan firman Tuhan, serta membawa penyembuhan bagi mereka yang sakit, tidak serta merta membuat Dia bisa diterima. Bayangkanlah kira – kira bagaimana perasaan Yesus yang adalah Anak Allah pencipta manusia serta alam semesta ini saat ditolak justru oleh ciptaan- Nya yang penuh dosa!


Sebenarnya penolakan juga sering kita lakukan kepada Dia yang adalah pencipta kita. Kita semua yang notabennya adalah anak-anak Allah yang telah diselamatkan darah-Nya, seharusnya sudah menjadi keluarga Allah. Lalu cobalah bayangkan jikalau kita yang adalah keluarga Allah, justru menolak Dia melalui tingkah laku kita yang tidak sesuai dengan Firman- Nya! Kabar baik-Nya adalah Tuhan tidak pernah akan menjadi pendendam bagi anak – anak-Nya yang menolak Dia, namun penolakan yang kita bisa berdampak buruk bagi kita sendiri. Menolak Kristus berarti mengijinkan dosa berkuasa dalam hidup ini, dan jika sudah demikian maka secara otomatis kita sudah membuat Dia menderita sekali lagi oleh kerena karya pengorbanan Yesus yang yang sia-sia. Sadarilah bahwa menolak firman Tuhan sama halnya dengan menolak keselamatan di dunia dan akhirat!


Meskipun sebagai Juruselamat, Keberadaan Yesus di dunia ini saat itu banyak mendapatkan penolakan, lalu apakah keberadaan Dia dalam hati kita saat ini juga mendapatkan penolakan yang sama?


“Lalu mereka kecewa dan menolak Dia

Maka kata Yesus berkata kepada mereka:

Seorang Nabi dihormati di mana-mana, kecuali

Di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya

Dan karena ketidakpercayaan mereka,

Tidak banyak mukjizat diadakan – Nya di situ”

Matius 13:57-58


GOD Bless u