Tuesday, August 25, 2020

(ArBer) Hartamu untuk siapa?

 


Hartamu untuk siapa?

 

Semakin kaya seseorang biasanya semakin cemas juga hidupnya.  Harta yang sangat sulit sekali untuk di”jaga”.  Tentunya banyak yang mengincar harta tersebut, dari kolega bisnis, lawan bisnis atau bahkan anggota keluarga sendiri, bukan begitu?

Baru – baru ini ada sebuah pimpinan perusahaan besar yang sudah meninggal, namun harta warisannya diperebutkan anak – anaknya yang nota bennya adalah masih anggota keluarga.   Harta berlimpah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit ternyata tidak bisa sepenuhnya dinikmati sendiri, dan nantinya akan menjadi milik orang lain.  Bahkan setelah meninggalpun harta berlimpah tersebut menimbulkan masalah bagi anggota keluarga lain yang sebenarnya tinggal menerima tanpa harus bersusah payah.

Jadi benarlah apa yang dikatakan Pengkotbah, bahwa harta yang berlimpah yang dimiliki seseorang bisa jadi adalah suatu ke sia – siaan.  Intinya adalah bukan berapa banyak harta yang kita punyai, namun bagimana cara kita mengelolanya dengan baik.  Segala yang kita punyai pasti akan kita tinggalkan ketika Tuhan Allah memanggil kita kembali, namun teladan yang baik dalam mengelola segala harta akan menjadi warisan yang terbaik bagi keturunan atau anggota kita lainnya.   

Harta yang berlimpah bisa menjadi bumerang yang mencelakan hidup kita ataupun anggota kita jikalau tidak dikeloloa dengan sebaik mungkin!

 

“Orang yang dikaruniakan Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan

Sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya

Tetapi orang itu tidak dikarunia kuasa oleh Allah untuk menikmatinya

Melainkan orang lain yang menikmayinya!

Inilah kesia – siaan dan penderitaan yang pahit”

Pengkotbah 6 : 2

God Bless You

No comments: